logo

sfic

Suster Fransiskus dari Perkandungan
Tak Bernoda Bunda Suci Allah

 

SIAPA KAMI

Kami adalah Suster Fransiskus dari Perkandungan Tak Bernoda Bunda Suci Allah. Kongregasi kami didirikan di Veghel, Nederland pada 24 juni 1844 oleh Pastor Bernardinus van Miert dan kemenakannya Suster Teresia van Miert. Sejak semula tujuan khusus adalah menolong yang menderita. Mereka melihat Yesus yang menderita dalam diri kaum papa. Suster Teresia van Miert sangat tergerak hatinya oleh keprihatinan zamannya. Sambil mendalami Injil dan kehidupan Fransiskus dia menemukan jalan untuk meringankan penderitaan yang ditanggung oleh orang-orang di sekitarnya. Sesuai dengan tradisi Kongregasi, suster-suster akan memperhatikan mereka yang paling menderita dalam masyarakat.

DI MANA KAMI

Dari Nederland, Kongregasi berkembang ke daerah misi Indonesia tahun 1906, dan Filipina tahun 1929. Tahun 1987 dimulai misi di Thailand untuk memajukan dialog dalam hidup dengan saudara-saudari yang beragama Budha. Menanggapi keperluan buruh migran, dibuka misi di Jepang 1989.

Mulai menangani misi di Kenya pada tahun 1994 sebagai keprihatinan global bersama dari seluruh Kongregasi.

Kami tinggal dan berkarya di pusat kota dan di pinggiran kota, desa, kampong serta di perkampungan kumuh.

APA KARYA KAMI

Deken van MiertKami berkarya dalam pastoral, katekese, pendidikan nilai, lituigi dan musik, pembinaan pimpinan awam, organisasi dan komunitas gerejawi basis, dan karya belaskasih. Kami bekeiya dengan kelompok petani, nelayan, wanita, remaja, anak-anak, kelompok etnik, kaum miskin pedesaan, buruh migran, dan pengungsi dalam hal penyuluhan organisasi, penyadaran dan program kesijahteraan dan pengembangan. Kami juga aktif dalam pendidikan, baik formal maupun non formal. Kami bekerja di rumah sakit dan klnik dan menangani program kesehatan rakyat. Ada program bagi penderita kusta, cacat, sakit paru-paru, dan para jompo. Kami melayani asrama dan membina pengembangan moral-spiritual bagi penghuni asrama. Kami turut bekerja dalam karya keadilan, damai dan keutuhan ciptaan untuk membangun damai, memperjuangkan hak-hak asasi manusia dan memajukan solidaritas antar bangsa-bangsa. Kami berdialog dengan kaum Islam, Budha dan kaum miskin. Peraayaan Ekaristi, doa dan kontemplasi merupakan bagian hidup kami sehari-hari.